Jumat, 23 Maret 2012

NH DINI



Sejarah Hidup NH Dini

Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin lahir di Semarang, Jawa Tengah, 29 Februari 1936 saat ini berumur 75 tahun. Ia adalah sastrawan, novelis, dan feminis Indonesia yang lebih dikenal dengan nama pena NH Dini.
Dilahirkan dari pasangan Saljowidjojo dan Kusaminah. NH Dini adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Dengan latar belakang ibu seorang pembatik yang gemar bercerita tentang kehidupan, budaya Jawa dan kisah-kisah wayang membuat NH Dini kecil tumbuh sebagai anak yang penuh imajinasi, suka membaca dan menuangkan isi hatinya dalam bentuk tulisan.
Saat menginjak bangku SMA di Semarang, ia mulai serius mengembangkan bakat menulisnya dengan cara masuk jurusan sastra. Ia mulai mengirimkan cerita-cerita pendeknya ke berbagai majalah dan bergabung dengan kakaknya, Teguh Asmar, dalam kelompok sandiwara radio bernama Kuncup Berseri. Masa remajanya sarat akan kegiatan, selain menjadi redaksi budaya pada majalah remaja Gelora Muda, ia membentuk kelompok sandiwara di sekolah, yang diberi nama Pura Bhakti. Buah ketekunannya terbuktikan dengan memenangi lomba penulisan naskah sandiwara radio se-Jawa Tengah. Setelah itu ia menjadi pengisi acara sandiwara radio Kuncup Seri di Radio Republik Indonesia (RRI) Semarang.
Tonggak munculnya NH Dini sebagai salah satu sastrawan Indonesia dimulai ketika cerpen pertamanya yang dibuat saat di bangku SMA dimuat di majalah Kisah, majalah sastra yang cukup terkenal pada masa itu. Namanya kemudian semakin dikenal luas saat buku kumpulan cerpen pertamanya yang berjudul Dua Dunia diterbitkan pada tahun 1956.  Saat itu ia telah bekerja sebagai pramugari di Garuda Indonesia Airways (GIA).
Saat masih menjadi pramugari, ia berkenalan dengan seoang diplomat Perancis bernama Yves Coffin yang akhirnya menikahinya. Dari pernikahan itu ia dikaruniai dua anak, Marie-Claire Lintang (kini 42 tahun) dan Pierre Louis Padang (kini 36 tahun). Anak sulungnya kini menetap di Kanada, dan anak bungsunya menetap di Prancis.
Sebagai istri seorang diplomat, NH Dini harus ikut kemanapun suaminya bertugas. Namun tragisnya pernikahan tersebut berakhir dengan perceraian pada tahun 1984.

Karier Penulisan NH Dini

Beberapa karya NH Dini yang terkenal, di antaranya Pada Sebuah Kapal (1972), La Barka (1975) atau Namaku Hiroko (1977), Orang-orang Tran (1983), Pertemuan Dua Hati (1986), Hati yang Damai (1998), selain itu ia juga menulis banyak karya dalam bentuk kumpulan cerpen, novelet, atau cerita kenangan.
NH Dini banyak disebut sebagai sastrawati feminis karena sebagian besar karyanya menyuarakan protes tentang ketidakadilan terhadap kaum wanita terutama dalam kehidupan rumah tangga. Menurut saya, hal ini sedikit banyak diilhami dari kehidupan pribadinya yang pernah mengalami kekerasan seksual oleh sang mantan suami.
Hingga saat ini, NH Dini telah menulis lebih dari 20 buku. Sebagian besar tentang kehidupan wanita. Pada beberapa buku saya rasa agak mengekspos seksualitas. Mungkin ini disebabkan karena ia lama tinggal di luar negeri. Sebagian kritikus berpendapat bahwa pandangan hidupnya sudah amat ke barat-baratan, hingga norma ketimuran hampir tidak dikenalinya lagi. Akan tetapi terlepas dari semua penilaian itu, bagi saya, karya-karya NH Dini tetaplah mengagumkan, penuh ide cemerlang, penuturannya jujur, alur ceritanya bergulir dengan lembut, namun sarat akan kejutan di setiap babnya.

NH Dini di Masa Senja

NH Dini sekarang menghabiskan masa senjanya di Panti Wredha Langen Wedharsih, Ungaran. Ia tetap sosok wanita yang mandiri seperti yang tergambar dalam karya-karyanya. Meskipun kedua putranya hidup berkecukupan namun ia menolak bergantung pada keduanya. Menurutnya, ia tidak mau meminta bantuan anak-anaknya karena memang itu bukan “sistem” yang ia pakai. Ia juga tidak merasa nyaman kalau seandainya ia meminta uang ternyata anak-anaknya juga membutuhkan uang tersebut.Hal tersebut malah membuatnya jatuh sakit.
Usia tua rupanya tak menghambat kreativitas Nh. Dini. Novelis wanita kelahiran Semarang ini tetap aktif menulis hingga diusianya yang menginjak angka 72 tahun. Saat ini ada dua naskah yang sedang ia garap. Satu naskah novel dan satu lagi naskah cerita kenangan. Namun penulisan kedua naskah tersebut terpaksa dihentikan sementara karena Nh. Dini sedang sibuk melelang lukisan untuk mengumpulkan biaya pengobatan penyakit hepatitis B yang dideritanya.
Pameran tunggal pertama Nh Dini diselenggarakan tahun 2009 yang lalu di Taman Ismail Marzuki tepat pada hari ulang tahunnya oleh Komunitas Pembaca Indonesia. Sedangkan pameran kedua diadakan tanggal 11-25 Juni 2010 bekerjasama dengan komunitas serta lembaga kebudayaan LIP/CCF Yogyakarta dengan tema  Pameran seni rupa “Alam Versi Hitam Putih” .
Untuk menyambung hidup dan membiayai pengobatan, selain menjual lukisan karyanya. Ia juga mengandalkan royalti dari penjualan karya-karya yang sudah diterbitkan. Walaupun sebenarnya dana royalti kurang bisa diandalkan untuk mendapatkan uang karena pengiriman dana itu selalu terlambat satu setengah bulan.
Meskipun usia renta dan penyakit terus mendera, NH Dini tetap mengabdikan hidup pada dunia sastra dan pendidikan. Ia membuka Pondok Baca NH Dini di Sekayu, Semarang sebagai perwujudan cita-citanya agar anak – anak di lingkungannya gemar membaca. Koleksi taman bacaan ini meliputi buku-buku dongeng, cerita rakyat, tokoh nasional, geografi atau lingkungan Indonesia, cerita rekaan dan petualangan, cerita tentang tokoh internasional, serta pengetahuan umum.
Satu hal yang patut dicontoh dari sosok seorang wanita bernama NH Dini adalah ketegaran dalam memegang teguh prinsip-prinsip hidupnya. Ia merasa beruntung karena dibesarkan oleh orang tua yang menanamkan prinsip-prinsip hidup yang senantiasa menjaga harga diri. Baginya usia bukanlah hambatan untuk tetap berkarya dan penyakit bukanlah alasan untuk menyerah dan hidup dalam belas kasihan orang lain.
Semoga kisah hidup NH Dini ini dapat menjadi pelecut semangat bagi para wanita Indonesia agar tidak mudah menyerah dalam menghadapi lika liku kehidupan. Karena kegagalan selalu bersumber pada lemahnya keyakinan pada kemampuan kita sendiri.



http://rakartini.com/inspirasi-wanita/nh-dini-semangat-hidup-yang-tak-pernah-putus
diakses 24 maret pukul 11:16

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar